Kejujuran Teman Yang Menyelamatkan

    Wahai saudara-saudaraku dan anak-anakku yang semoga dirahmati Allah! kejujuran di dalam perkataan adalah di antara kunci keselamatan, ketenangan dan kebahagian di dunia dan di akhirat. Kita semua tentunya ingin mendapatkan semua itu.  Jujur di dalam perkataan adalah berbicara ataupun menceritakan sesuatu sesuai dengan kenyataanya, tidak menyelisihi kebenaran, tidak ditambah-tambah tidak pula dikurang-kurangi.

Berkata atau bercerita jujur terkadang terasa berat bagi kita, khususnya ketika perkataan atau cerita jujur tersebut memojokkan diri-diri kita, karena memang kita yang bersalah. Bahkan sebagian kita -semoga Allah memperbaiki kita semua- ketika dihadapkan dengan kondisi yang memojokkannya, ia lebih memilih untuk berucap dan berkata dusta karena ia menyangka bisa selamat dengannya, padahal sungguh kedustaannya itu tidaklah menambah kecuali musibah dan musibah. Seandainya ia mau berpegang teguh dengan kejujuran, niscaya sedikit saja resiko yang akan didapatkannya dan setelah itu dia akan mendapatkan keselamatan, ketenangan dan kebaikan yang banyak.

Maka mari kita simak baik-baik sebuah kisah yang menarik tentang orang yang berani berucap jujur di saat kritis yang karenanya dia selamat dari hukuman pancung, kemudian kita ambil pelajaran darinya:
Di masa kekholifahan (kepemimpinan) Ali –Semoga Allah meridhoinya-  ada seorang laki- laki dihadapkan kepadanya untuk dihukumi. Laki-laki tersebut di ditangkap disebuah puing-puing rumah (reruntuhan rumah) dalam keadaan ditangannya ada sebilah pisau yang berlumuran darah dan ditemukan di hadapannya sebuah mayat yang berlumuran darah.

Maka Ali -Semoga Allah meridhoinya- bertanya kepadanya: “Apakah kamu yang membunuhnya?.”  Laki-laki itu menjawab: “Benar saya yang membunuhnya.” Maka Ali  memerintahkan kepada pasukannya: “Bawa laki-laki ini ke tempat pemenggalan dan penggal kepalanya (sebagai qishosh).” Maka tatkala laki-laki itu dibawa ke tempat pemenggalan, tiba-tiba di tengah-tengah perjalanan ada seseorang yang bergegas menghampiri pasukan tadi yang membawa laki-laki itu dan berteriak: “Wahai para pasukan jangan kalian terburu-buru memenggal laki-laki ini, kembalikan dia kepada Amirul Mukminin.” Akhirnya pasukan tadi mengembalikan laki-laki itu kepada Ali -Semoga Allah meridhoinya- bersama orang tadi (yang menghalangi pemenggalan).

Sesampainya di hadapan Amirul Mukminin orang tadi  berkata kepada Ali -semoga Allah meridhainya-: “Wahai Amirul Mukminin! laki-laki ini bukanlah pembunuhnya, bahkan sayalah sebenarnya yang membunuhnya.” Maka Ali berkata kepada laki-laki tadi yang pertama: “Lantas mengapa kamu mengaku sebagai pembunuhnya padahal kamu bukanlah pembunuhnya?.”  Laki-laki itu menjawab: “Wahai Amirul mukminin saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya itu yang bisa saya perbuat, karena sungguh para perondamu mendapati sebuah mayat bercucuran darah dan mendapati saya dihadapannya dalam keadaan saya seperti itu (memegang pisau yang berlumuran darah) dan akhirnya saya ditangkap di tempat reruntuhan itu, dan saya khawatir kalau saya tidak mengakui pembunuhan tersebut pengakuan saya akan ditolak (karena tidak ada saksi) dan urusannya akan menyulitkan saya, sehingga saya memilih untuk mengakui satu kejahatan yang tidak saya perbuat sama sekali dan saya mengharapkan pahalanya di sisi Allah.” 

Maka Alipun berkata: “Jelek sekali apa yang kamu perbuat itu. Ceritakan kepadaku kejadian sebenarnya!.” Laki-laki tadi menjawab: “Sesungguhnya saya adalah tukang jagal (sembelih), suatu hari saya pergi ke sebuah kedai untuk menyembelih seekor sapi di tempat itu. Di saat saya sedang menyembelihnya kemudian mengulitinya, tiba-tiba saya ingin buang air kecil, maka sayapun pergi menuju tempat reruntuhan yang terdekat untuk buang air kecil di tempat itu, ketika saya hendak kembali ke kedai tadi, tiba-tiba saya menjumpai sosok yang berlumuran darah, maka hal itu mengundang perhatian saya, maka sayapun mengecek keadaanya dalam keadaan pisau yang berlumuran darah bekas menyembelih sapi berada ditangan saya, saya tidak menyadari ternyata tiba-tiba pasukan rondamu memergoki saya, maka merekapun menyeret saya kepadamu, dan manusia semuanya mengatakan sayalah yang membunuhnya karena tidak ada pembunuh di tempat itu kecuali saya. Dan saya yakin engkaupun sependapat dengan yang dituduhkan oleh manusia itu kepadaku, sehingga sayapun terpaksa mengakui kejahatan yang sama sekali tidak saya perbuat.” 

    Kemudian Alipun berkata kepada orang yang kedua (yang menghadang pasukan tadi): “Kamu! Bagaimana kejadianmu.” Maka ia menjawab: “Sungguh Iblis telah memperdaya saya, sehingga saya membunuh orang ini karena ketamakan saya kepada hartanya, kemudian setelah saya berhasil membunuhnya, saya mendengar suara para peronda maka sayapun keluar menyelinap dari tempat pembunuhan itu dan saya mendapati tukang jagal ini dalam keadaan pada tangannya ada sebilah pisau yang berlumuran darah, maka sayapun bersembuyi darinya pada sebagian puing-puing rumah sampai para peronda tadi memergoki tukang jagal ini dan menyeretnya kepadamu wahai Amirul mu’minin. Dan tatkala Engkau memerintahkan pasukanmu untuk memenggal tukang jagal ini, maka saya meyakini bahwa saya akan memikul dosa pembunuhan untuk yang kedua kalinya, maka sayapun memilih untuk mengakui kejadian yang sebenarnya.”

    Maka Ali berkata kepada anaknya Al Hasan: “Wahai Al Hasan! Hukuman apa menurutmu yang pantas dijatuhkan kepada orang ini? ”  Al Hasan menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! meskipun orang ini telah membunuh satu jiwa, sungguh ia juga telah menghidupkan jiwa yang lain (dengan pengakuannya tadi), dan sungguh Alloh telah berfirman:
 وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا
Artinya, “Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
   
Maka akhirnya Alipun membebaskan keduanya dan mengambil harta dari baitul mal untuk diberikan kepada keluarga korban. Demikianlah kesudahan yang baik bagi orang-orang yang berpegang dengan kejujuran. Semoga Alloh menggolongkan kita kepada golongan orang-orang yang jujur dan dibangkitkan di hari kiamat kelak bersama mereka. amiin…

Kisah tersebut dinukil dari kitab Ath Thuruq al Hukmiyyah pasal Keajaiban Para Hakim,hal 28 oleh Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah