Indahnya Kesabaran Para Ulama dalam Mencari Ilmu dan Menyebarkannya

INDAHNYA KESABARAN PARA ‘ULAMA DI DALAM MENCARI ILMU DAN MENYEBARKANNYA

 Oleh : al-Ustadz Abu Ridho bin Iskandar Klaten

Alhamdulillah,segala puji hanya milik Allah Dzat yang memberikan kemudahan pada kami untuk menghadirkan kembali,”Indahnya kesabaran para ulama didalam mencari ilmu dan menyebarkannya”, di tengah–tengah kaum muslimin pecinta ilmu sejati, tholabatul ilmi, yang sekian waktu lamanya faedah sederhana ini sunyi redup kehadirannya di sanubari-sanubari para pecinta ilmu, serta goresan-goresan tintanya tidak tampak di hadapan para pembacanya.. Berharap dengannya tentunya, dengan pertolongan Allah Tabaroka wa Ta’ala,kembali menghidupkan suasana semangat untuk tetap istiqomah di dalam memburu ilmu, mempelajari kemudian mengamalkannya serta menyebarkannya di tengah dahsyatnya fitnah syahwat dan syubuhat yang melambai-lambai,kepada saudara kita kaum muslimin, hingga ajal menjemput kita, berpisah dengan dunia yang fana ini,menuju kampung akhirat yang lebih kekal dan abadi. Semoga Allah Tabaroka wa Ta’ala, menerima semua amalan kita dan senantiasa membimbing kita kepada jalan-Nya yang lurus.Amin.

  1. Kisah rihlahnya Musa dan muridnya Yusa’ bin Nun ‘alaihimas sholatu wassallam kepada Khidir ‘alaihissalam.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang mulia,”Miftah Daarus Sa’adah”(55-56): ”Sungguh Allah Ta’ala,telah mengisahkan,tentang kekasih-Nya dan Kalim-Nya Musa ‘alaihissalam,yang Allah Ta’ala menulis Kitab Tauroh dengan tangan-Nya kepadanya dan Allah Ta’ala mengajak langsung bicara dengannya tanpa perantara.Bahwasannya dia(Musa),rihlah pergi kepada seorang alim,sekaligus belajar dan menimba ilmu darinya,”ilmu demi ilmu”.

Allah Ta’ala berfirman: ”Dan tatkala Musa berkata kepada muridnya (Yusa’ bin Nun), aku tidak akan berhenti dari rihlah ini,sampai aku menemui pertemuan antara dua laut atau aku akan berjalan terus”(al-Kahfi:60).

Ini merupakan bukti nyata kesungguhan Musa ‘alaihissalam,yang berupaya untuk bisa bertemu dengan seorang alim, disertai upaya beliau untuk bisa berguru dengan alim tersebut. Dan tatkala Musa berjumpa dengannya, beliau pun memposisikan diri di hadapannya layaknya -..seorang murid di hadapan gurunya..-, Musa pun berkata kepadanya:”Bolehlah Aku mengikutimu,agar engkau mengajariku,dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu”(al-Kahfi:66).Musa pun memulai awal bergurunya, dengan meminta izin darinya untuk mengikutinya,seusai mengucapkan salam kepadanya,dan bahwasanya beliau tidaklah megikutinya melainkan setelah mendapatkan izin darinya.Dan tidaklah pula Musa datang kepadanya dalam rangka mengetes atau dengan mendatangkan sesuatu permasalahan yang menyulitkan baginya,akan tetapi hanya saja beliau datang kepadanya dalam rangka belajar dan memperdalam ilmu,ilmu demi ilmu dari ilmu yang dia miliki”.

Dengan demikianlah bukti cukup bagi ilmu, keutamaan dan kemuliaannya, dikarenakan nabi yang mulia ini,rihlah pergi dan safar sampai mendapatkan dari bagian perjalanannya,tiga faedah dari permasalahan ilmu dari alim tersebut, yang beliau tatkala mendengar khabar tentangnya,tidaklah mengakuinya begitu saja, sampai beliau bertemu denganya,kemudian meminta izin kepadanya untuk mengikutinya dan belajar darinya.Dan sungguh di dalam kisah mereka berdua ini, tersimpan pelajaran-pelajaran,tanda-tanda dan hukum-hukum Allah Tabaroka wa Ta’ala,dan di sini bukanlah tempat untuk menyebutkannya. (selesai ulasan ringkas dari beliau Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah)

Dan semoga Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shalalallahu ‘alaihi wassallam, keluarganya dan para shahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengkuti jejak mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak. Amin.. walhamdulillah.. wabillahi at-taufiq..